biggie80
Active+ Member
- Messages
- 3,293
- Joined
- Jul 14, 2010
- Messages
- 3,293
- Reaction score
- 803
- Points
- 71
Al-Kisah....
Seorang ahli sufi dari tanah air kita berada di Kota Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji. Dalam kesibukan persiapan meraka di tanah suci, beliau yang sampai lebih awal memerhatikan betapa sibuknya para peniaga yang menjalankan perniagaan di sekitar Masjidil Haram menyediakan jualan masing- masing dengan penuh rasa ceria dan gembira tatkala musim haji telah tiba.
Beliau menghampiri para peniaga tersebut dan bertanya, "Mengapa kamu sebegini sibuk dan ceria lagi gembira menyediakan alat jualan tatkala musim ibadah haji sudah hampir tiba?"
Jawab seorang peniaga, "masakan kami tidak gembira, berapa ramai "lembu Makkah" akan tiba tak lama lagi untuk membeli segala benda yang akan kami jual dan pasti untung dan bergembiralah kami sekelian".
Kawe mendengar cerita ini semalam dari kalam salah seorang ahli dan juga anak guru kepada Tok Ku Paloh yang kini menetap di Bachok Kelate.
Dia menerangkan akan mengapa para manusia yang pergi beribadah itu dikatakan "lembu Makkah". Dan ini dijelaskan kan lagi dengan istilah "HAYAWANUN NATIQ " yang ada dibincangkan oleh Aristotle dalam tulisan-tulisan yang dihimpun dalam The Basic Works of Aristotle.
HAYAWANUN NATIQ ini bermakna haiwan yang boleh bertutur.
Bagai mana haiwan yang boleh bertutur?
Haiwan- haiwan sebenarnya pada hakikat boleh bertutur, tetapi hanya boleh difahami sesama mereka....spt itik vs itik, ayam vs ayam...lembu vs lembu...dan juga kita manusia (insan) sesama manusia. Jika saling memahami maka jadilah dunia seperti Narnia
Dipatik dari penyampaian seorang hamba Allah:
Hakikat manusia adalah roh dan fikiran yang hidup. Kalau hanya ada roh tapi fikirannya mati, maka dia adalah bangkai bernyawa. Fikiran yang hidup adalah fikiran yang boleh berkomunikasi dengan Allah. Kalau fikiran yang hanya boleh berkomunikasi sesama manusia, sama dengan haiwan. Aristotle berkata, “Manusia ialah hayawanun natiq (binatang yang pandai bertutur).” Kalau berfikir untuk hanya bercakap-cakap sesama manusia dengan berbagai alat dan media, maka dia belum terlepas dari darjat binatang yang bertutur. Tetapi apabila manusia boleh berfikir dan mampu bercakap-cakap dengan Kholik, dengan Robbnya, maka barulah dia terangkat darjatnya naik menjadi insan Khalifatullah sesuai dengan tujuan ciptaannya. ‘Inni ja’ilun fil ardhi kholifah wama kholaktul jinna wal insane illa liya’budun’.
Ada 6 Hewan Yang Tidak Di Muliakan Allah, ini berkaitan dengan Sebab-sebab melaksanakan tayamum berdasarkan keterangan dari Kitab Safinatun Naja karangan Syekh Salim bin Abdullah bin Sa'ad bin Sumair al Hadhrami.
Dalam kitab tersebut di terangkan ada 3 sebab kita boleh melaksanakan tayamun.
Adapun ke-3 sebab itu diantaranya adalah :
1. Tidak Ada Air atau di landa kekeringan sehingga setelah kita cari tidak ada air di mana-mana.
2.Karena Sakit yang Parah dan tidak boleh terkena air.
3.Ada yang lebih membutuhkan dari air wudlu yang kita miliki, yaitu hewan yang sedang kehausan apabila tidak di kasih air minum maka hewan tersebut akan mati, namun hewan tersebut adalah hewan yang di Mulyakan oleh Allah swt.
Dalam kitab tersebut di jelaskan bahwa hewan yang di Muliakan oleh Allah swt adalah selain dari hewan yang tidak di Muliakan oleh Allah swt yang berjumlah 6:
Adapun 6 hewan yang tidak di Muliakan Allah swt adalah :
1.Orang Yang Meninggalkan Shalat
2.Orang Yang Zina Muhson (Orang Yang sudah menikah lalu berzina)
3.Orang Yang Murtad
4.Orang Kafir Yang Memerangi Umat Muslim
5.Anjing Galak
6.****
Jadi ke-6 hewan di atas adalah hewan yang tidak dimulyakan oleh Allah swt, sehingga apabila ke-6 hewan ini kehausan tidak usah di kasih minum lebih baik air tersebut di gunakan untuk berwudlu.
Catatan : Dalam Keterangan Tersebut Manusia di golongkan hewan karena manusia di sebut juga sebagai Hayawanun Natiq (Hewan Yan Bisa Berbicara)
Kesimpulan : Sungguh Orang yang tidak melaksanakan Shalat, Zina Muhson dan orang yang murtad ada pada rangking 1 s/d 3 dari ke-6 Hewan yang tidak di Mulyakan Allah swt, Semoga kita tidak tergolong ke dalam golongan tersebut. Amien.
Ahli filosofi Yunani ada membawa pemikiran yang dikatakan "COGITO ERGO SUM" (aku berpikir maka aku ada).
- Tokoh sentral: Rene Descrates, B. Spinoza, dan G.W. Leibniz.
Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis. Artinya adalah: "aku berpikir maka aku ada". Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.
Jika dijelaskan, kalimat "cogito ergo sum" berarti sebagai berikut. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.
Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.
Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika berpikir, sayalah yang berpikir" salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin: COGITO ERGO SUM, aku berpikir maka aku ada.
Kawe di sini hanya ingin berkongsi kedapatan yang ambo bulih semalaman bersama seorang ahli dalam ahlinya...mudahan dapatlah kita sama- sama meltakkan diri kita sewajarnya pada tempat yang sebenr-benarnya‘Inni ja’ilun fil ardhi kholifah wama kholaktul jinna wal insane illa liya’budun’
-wallahualam.
Last edited: