PenglipurLara
Fun Poster
- Messages
- 681
- Joined
- Jan 14, 2025
- Messages
- 681
- Reaction score
- 29
- Points
- 30
Cerita saya kembali ke tahun 1985, ketika saya berumur 17 tahun dan hidup seperti seorang hippie... ya, saya tinggal di sebuah tanah perkebunan hippie selama dua tahun sementara cuba memahami kehidupan. Tempat ini terletak di pinggir sebuah taman negara di Northern Rivers, New South Wales, dan agak terkenal pada zamannya. Sekarang, mari masuk ke cerita seram saya.
Pada suatu hari Sabtu yang hujan, kami bertiga – Darren Hitam, seorang lelaki Aborigin yang memang selamba, Dave dan saya – berasa bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan di hutan untuk berseronok. Ia adalah saat yang menghiburkan, dari mana kami hanya memerhati sekeliling, dalam keadaan seronok sesama sendiri dan berjalan di sebuah jalan lama yang tak digunakan.
Ketika itu, pundi kencing saya mula berasa penuh, jadi saya minta mereka teruskan berjalan sementara saya mencari tempat sesuai untuk buang air. Dalam cuaca renyai-renyai, saya menemui sebatang pokok yang sesuai. Ketika itulah daripada kabus nipis, muncul seorang budak lelaki, berusia dalam lingkungan dua belas tahun, berpakaian pelik dengan baju tanpa kolar, seluar pendek yang diikat dengan tali pinggang dan berkaki ayam. Rambutnya pendek, seakan ibunya cuma potong sekeliling kepala dengan mangkuk. Wajahnya pucat.
Dia berdiri beberapa saat sebelum berpaling dan masuk semula ke dalam hutan. Saya terkejut dan segera memanggil Darren dan Dave, yang berlari mendapatkan saya, menyangka saya digigit ular atau diserang binatang. Saya ceritakan kepada mereka apa yang saya nampak, tetapi mereka tidak percaya, mengatakan mungkin ganja yang kami hisap terlalu kuat. Namun, saya pasti budak itu nyata.
Beberapa hari kemudian di pub, Dave memberitahu seorang lelaki tua tentang pengalaman saya. Lelaki tua itu, yang berasal dari keluarga pemotong kayu sejak dahulu, mengajak saya bercerita lebih lanjut.
"Saya rasa saya tahu siapa budak itu," katanya.
"Maaf, maksud pakcik siapa dia?"
"Ada seorang budak hilang pada tahun 1924," katanya, "dan mayatnya tak pernah dijumpai. Budak yang kau nampak mungkin abang kepada ayah saya."
Nama pakcik itu semakin menghilang dalam ingatan saya seiring masa berlalu. Saya kembali ke sana beberapa kali, tapi tak pernah nampak budak itu lagi. Cerita ini benar.
Pada suatu hari Sabtu yang hujan, kami bertiga – Darren Hitam, seorang lelaki Aborigin yang memang selamba, Dave dan saya – berasa bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan di hutan untuk berseronok. Ia adalah saat yang menghiburkan, dari mana kami hanya memerhati sekeliling, dalam keadaan seronok sesama sendiri dan berjalan di sebuah jalan lama yang tak digunakan.
Ketika itu, pundi kencing saya mula berasa penuh, jadi saya minta mereka teruskan berjalan sementara saya mencari tempat sesuai untuk buang air. Dalam cuaca renyai-renyai, saya menemui sebatang pokok yang sesuai. Ketika itulah daripada kabus nipis, muncul seorang budak lelaki, berusia dalam lingkungan dua belas tahun, berpakaian pelik dengan baju tanpa kolar, seluar pendek yang diikat dengan tali pinggang dan berkaki ayam. Rambutnya pendek, seakan ibunya cuma potong sekeliling kepala dengan mangkuk. Wajahnya pucat.
Dia berdiri beberapa saat sebelum berpaling dan masuk semula ke dalam hutan. Saya terkejut dan segera memanggil Darren dan Dave, yang berlari mendapatkan saya, menyangka saya digigit ular atau diserang binatang. Saya ceritakan kepada mereka apa yang saya nampak, tetapi mereka tidak percaya, mengatakan mungkin ganja yang kami hisap terlalu kuat. Namun, saya pasti budak itu nyata.
Beberapa hari kemudian di pub, Dave memberitahu seorang lelaki tua tentang pengalaman saya. Lelaki tua itu, yang berasal dari keluarga pemotong kayu sejak dahulu, mengajak saya bercerita lebih lanjut.
"Saya rasa saya tahu siapa budak itu," katanya.
"Maaf, maksud pakcik siapa dia?"
"Ada seorang budak hilang pada tahun 1924," katanya, "dan mayatnya tak pernah dijumpai. Budak yang kau nampak mungkin abang kepada ayah saya."
Nama pakcik itu semakin menghilang dalam ingatan saya seiring masa berlalu. Saya kembali ke sana beberapa kali, tapi tak pernah nampak budak itu lagi. Cerita ini benar.
