hgt422007
Active Member
- Messages
- 1,364
- Joined
- Feb 28, 2008
- Messages
- 1,364
- Reaction score
- 155
- Points
- 33
Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan oleh Alah swt kepada manusia itu? sesungguhnya kami telah memberi kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”.
— An.Nisa’: 54
Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsirul Qur’anul Adzim) menjelaskan bahwa mereka itu dengki dan iri hati kepada Muhammad saw karena kenabian yang telah dikaruniakan Allah swt kepadanya, dan karena dia bukan dari keturunan bani Israil, tetapi keturunan arab, iri hati itulah yang manghalangi mereka untuk mempercayai dan beriman kepadanya.
Iri adalah dosa yang pertama kali dilakukan di langit yaitu irinya Iblis kepada Nabi Adam as, juga dosa yang pertama kalia dilakukan di bumi yaitu irinya anak adam as kepada saudaranya hingga ia tega untuk membunuhnya.
Imam An-Nawawi menjelaskan tentang definisi hasad yaitu: mengharap lenyapnya nikmat yang telah diterima oleh seseorang dari Allah swt, baik berupa karuni nikmat agama maupun dunia. Sifat iri ini bisa memusnahkan amal-amal kebaikan kita dalam waktu yang sangat singkat, sebagai mana api yang memakan kayu bakar lenyap musnah tanpa bekas. Sesuai dengan sabda Nabi saw: Artinya :
“Hati-hatilah kalian dari sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu bakar atau rumput."
— HR. Ibnu Majah
Berdaarkan hadits diatas Ibnu Sirin berkata: Aku tidak membenci seseorang karena urusan dunia, sebab jika ia termasuk penghini surga bagai mana mungkin aku mendengkinya karena suatu urusan dunia karena toh ia akan berjalan ke surga? Jika ia termasuk penghuni neraka, maka bagaimana mugkin aku mendengkinya, karena suatu urusan dunia, padahal ia akan berjalan ke neraka?
Dan perlu kita ketahui jika Allah swt melimpahkan suatu nikmat kepada kita maka akan ada dua sikap yang muncul dalam menghadapi keadaaan itu:
1.
Engkau membenci nikmat itu, dan merasa suka jika nikmat itu lenyap, inilah yang dinamaka iri.
2.
Engkau tidak membenci keberadaan nikmat itu dan tidak menginginkan ia lenyap, akan tetapi didalam hatimu ada keinginan untuk mendapatkan kenikmatan yang serupa, inilah yang dinamakan ghibthoh (ingin mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang lain). Hal yang seperti ini merupakan hal yang wajar bagi pembawaan manusia karena jiwa manusia itu mempunyai pembawaan mencintai kedudukan yang tiggi dan ia tidak suka jika diungguli dan disaingi oleh yang lainnya. Dan jika hal itu terjadi maka ia tidak akan menyukainya.
Semua bentuk kedengkian itu dilarang oleh Rasulullah saw kecuali dua perkara yaitu orang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah swt kemudian ia membacanya menjelang malam dan siang dan orang yang diberi harta oleh Allah swt lalu ia menafkahkannya dalam kebenaran menjelang malam dan siang. Maka sifat dengki yang seperti ini diperbolehkan oleh Rasuullah saw, sesuai dengan sabda beliau, artinya:
“Tidak ada dengki kecuali dalam dua perkaa: orang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah swt lalu ia membacanya menjelang malam dan menjelang siang, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah swt lalu ia menafkahkannya dalam kebenaran menjelang malam dan menjelang siang “.
— HR. Bukhari dan Muslim
— An.Nisa’: 54
Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsirul Qur’anul Adzim) menjelaskan bahwa mereka itu dengki dan iri hati kepada Muhammad saw karena kenabian yang telah dikaruniakan Allah swt kepadanya, dan karena dia bukan dari keturunan bani Israil, tetapi keturunan arab, iri hati itulah yang manghalangi mereka untuk mempercayai dan beriman kepadanya.
Iri adalah dosa yang pertama kali dilakukan di langit yaitu irinya Iblis kepada Nabi Adam as, juga dosa yang pertama kalia dilakukan di bumi yaitu irinya anak adam as kepada saudaranya hingga ia tega untuk membunuhnya.
Imam An-Nawawi menjelaskan tentang definisi hasad yaitu: mengharap lenyapnya nikmat yang telah diterima oleh seseorang dari Allah swt, baik berupa karuni nikmat agama maupun dunia. Sifat iri ini bisa memusnahkan amal-amal kebaikan kita dalam waktu yang sangat singkat, sebagai mana api yang memakan kayu bakar lenyap musnah tanpa bekas. Sesuai dengan sabda Nabi saw: Artinya :
“Hati-hatilah kalian dari sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu bakar atau rumput."
— HR. Ibnu Majah
Berdaarkan hadits diatas Ibnu Sirin berkata: Aku tidak membenci seseorang karena urusan dunia, sebab jika ia termasuk penghini surga bagai mana mungkin aku mendengkinya karena suatu urusan dunia karena toh ia akan berjalan ke surga? Jika ia termasuk penghuni neraka, maka bagaimana mugkin aku mendengkinya, karena suatu urusan dunia, padahal ia akan berjalan ke neraka?
Dan perlu kita ketahui jika Allah swt melimpahkan suatu nikmat kepada kita maka akan ada dua sikap yang muncul dalam menghadapi keadaaan itu:
1.
Engkau membenci nikmat itu, dan merasa suka jika nikmat itu lenyap, inilah yang dinamaka iri.
2.
Engkau tidak membenci keberadaan nikmat itu dan tidak menginginkan ia lenyap, akan tetapi didalam hatimu ada keinginan untuk mendapatkan kenikmatan yang serupa, inilah yang dinamakan ghibthoh (ingin mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang lain). Hal yang seperti ini merupakan hal yang wajar bagi pembawaan manusia karena jiwa manusia itu mempunyai pembawaan mencintai kedudukan yang tiggi dan ia tidak suka jika diungguli dan disaingi oleh yang lainnya. Dan jika hal itu terjadi maka ia tidak akan menyukainya.
Semua bentuk kedengkian itu dilarang oleh Rasulullah saw kecuali dua perkara yaitu orang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah swt kemudian ia membacanya menjelang malam dan siang dan orang yang diberi harta oleh Allah swt lalu ia menafkahkannya dalam kebenaran menjelang malam dan siang. Maka sifat dengki yang seperti ini diperbolehkan oleh Rasuullah saw, sesuai dengan sabda beliau, artinya:
“Tidak ada dengki kecuali dalam dua perkaa: orang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah swt lalu ia membacanya menjelang malam dan menjelang siang, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah swt lalu ia menafkahkannya dalam kebenaran menjelang malam dan menjelang siang “.
— HR. Bukhari dan Muslim