Haruskah Merayakan Tahun Baru?

CG Sponsors




pamenan65

Fun Poster
Joined
Apr 26, 2008
Messages
739
Reaction score
16
Points
15
Haruskah Merayakan Tahun Baru?
Hidup kita di tahun 2008 ini tinggal menghitung detik sahaja,
Bicara soal tahun baru masehi yang senantiasa dirayakan dengan sangat meriah, kadangkala bahkan ada yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekadar merayakan pergantian tahun: old and new. Haruskah kita merayakan pergantian tahun tersebut? Padahal, isinya tak jauh dari “itu-itu” juga:
Nah, sebelum membahas lebih lanjut, saya sengaja menempatkan subjudul ini lebih dulu ketimbang thread lain. Iya, ini supaya kita sebagai muslim berhati-hati sebelum melakukan perbuatan. Sebab, berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syarak (syariat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.

Lalu apa hukumnya merayakan tahun baru masehi bagi seorang muslim? Jawaban singkatnya adalah SSTBAH alias sangat sangat tidak boleh alias haram.
Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap saja x menjadikan perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat

Tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani,
Masehi kan nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Sejarahnya, menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.

Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian ?memanfaatkan’ penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)

Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.
Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” bersamaan dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year,

Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jangankan yang sudah jelas perayaan keagamaan seperti Natal, yang masih bagian dari ritual mereka seperti tahun baru masehi dan ada hubungannya serta dianggap suci saja sudah haram hukumnya dilakukan seorang muslim.
Kenapa ?

Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: ”

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72)
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.

Itu artinya, kalau sampai seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita sudah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar (’Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini?” Mereka menjawab, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah”. Lantas beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Aidil Adha dan Aidil Fithri” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)

Terus, boleh tak kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu, sekadar refreshing deh. Hmm.. ada baiknya kita menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka“ (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640) Umar ra. berkata lagi, “Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (ibid, No. 18641) Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, “Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka” (‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)

bersambung ...
 
Last edited:
Sponsored Post

taurusboyz90

Legendary Member
Joined
Apr 20, 2008
Messages
10,017
Reaction score
119
Points
123
memang x harus pun merayakan tahun baru ni..tapi kalau ke arah kebaikkan x pe..contohnya..sebelum masuk tahun baru..tetapkan azam untuk berubah kepada lebih baik..
 

Cuppy Cakes

Legendary Member
Joined
Sep 16, 2008
Messages
12,140
Reaction score
35
Points
120
kalo duk dpn tv tgk konsert blh diterima lagi..
tp kalo siap pegi klcc,dataran merdeka same2 terkinja-kinja mmg x patut langsung..
bukan muhrim bergaul bebas sane cni,bersentuhan siap ade yg kissing lagik..
:(scam
 

sconsult

CG Top Poster Club
Joined
Dec 10, 2007
Messages
22,646
Reaction score
655
Points
161
Tak yah lah gi, banyak syaitan/jin kat tempat macam2 tu !
 

protozuaqs

Super Active Member
Joined
Oct 11, 2007
Messages
9,734
Reaction score
116
Points
73
memang x harus pun merayakan tahun baru ni..tapi kalau ke arah kebaikkan x pe..contohnya..sebelum masuk tahun baru..tetapkan azam untuk berubah kepada lebih baik..
mengapa ramai org melihat sekiranya ingin perubahan yg baru dalam hidup,perlunya azam tersebut dibina pada masa tibanya tahun baru,atau lebih tepat lagi hari ulang tahun permulaan tahun masihi,tahun sambutan org kristian?
mengapa tidak sematkan azam dalam diri setiap hari ingin berubah,

ataupun sekiranya 'mindset' meletakkan bahawa,untuk memulakan azamyg baru,perlu pada sandaran atau perisatiwa yg lebih memberikan impak,mengapa perlu tahun baru masihi?

kita kan ada tahun hijrah???
 
Last edited:

pamenan65

Fun Poster
Joined
Apr 26, 2008
Messages
739
Reaction score
16
Points
15
Nah, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadanya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)

At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.

Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka.

Tahun baru, dosa baru?

Kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama saja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi sudah buat dosa baru. Keterlaluan jika sampai punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Kasihan benar ( banyak rugi )

Boys and girls, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini sudah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)

Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)

Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, en mana yang mubah.
Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula.
Naudzubillahi min dzalik!

Saudara muda muslim, tak baik hura-hura. Hindari, Jangan sampe lupa diri. Itu sebabnya, Rasulullah saw. memperingatkan tentang dua hal yang membuat manusia lupa diri. Sabda beliau saw.: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Tak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita tak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:
“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-R?m [30]: 57)

Jadi, tak perlu kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih baik. Jangan menunggu pergantian tahun baru masehi, karang tobat belum maut dah menjemput. Rugi besar! Mari kita tingkatkan terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Hari demi hari harus lebih baik, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. Are you ready?

ditranslet ulang dari BULETIN GAUL ISLAM TAHUN 1/2007

:)cgrock:)cgrock:)cgrock
 

tudung87

Legendary Member
Joined
May 30, 2008
Messages
12,870
Reaction score
69
Points
120
aku layan dpn tv jek..
tapi, hari ni x layan pun..
:))
 

muhammad

Junior Member
Joined
Dec 28, 2008
Messages
60
Reaction score
86
Points
16
“Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)
 
Sponsored Post
Top
Log in Register