BTC USD 42,156.0 Gold USD 1,778.08
Time now: Jun 1, 12:00 AM

GEMPAR..!! Bongkar Kesesatan dan Bahaya SYIAH

akudotcom

Legendary Member
Joined
Jun 17, 2007
Messages
18,128
Reaction score
2,780
Points
201
Tradisi Syiah Mewarnai Islam di Indonesia, Kenapa Kini Diteror?
Kolom
10 Agustus 2020
syiah-sunni.jpg
shia vs sunni concept on the signpost, 3D rendering
Aksi kekerasan di Solo terjadi akibat sentimen terhadap Syiah yang dianggap sesat. Padahal, perkembangan Islam di Indonesia banyak yang dipengaruhi oleh tradisi Syiah yang datang dari Persia dan India.

Gerombolan Laskar radikal, menyerang keluarga Almarhum Habib Segaf Aljufri di Solo. Habib Umar Assegaf (54 thn), Habib Hadi Umar (15 thn) dan Habib Husin Abdullah (57 thn) menjadi korban keberingasan mereka. Habaib ini dipukuli secara bringas oleh gerombolan laskar “Islam” tersebut. Islam tanda petik ini, diduga kuat berasal dari Kelompok Salafi Wahabi radikal di Solo.

Teror Solo, Sabtu (8/8/020) lalu ini menunjukkan betapa kelompok Salafi Wahabi tengah melakukan mazhab cleansing di Indonesia. Untuk saat ini, sasarannya Syiah. Sebelumnya Ahmadiyah. Ke depan, jika kelompok Salafi Wahabi yang didukung Kerajaan Saudi Arabia (KSA) berada di atas angin, mungkin Ahli Sunah Waljamaah (Aswaja) yang dianut jam’iyah NU akan jadi sasaran berikutnya. Ziarah kubur, tahlilan, maulidan, dan salawatan yang jadi “tradisi” NU pasti akan diobrak-abrik kalangan Wahabi radikal ini.

Salafi Wahabi ini kuat secara finansial karena didukung pendanaan dari KSA. Sekarang teror-teror Salafi-Wahabi sudah memuakkan umat Islam Indonesia. Mereka merusak toleransi beragama dan menghancurkan budaya Islam Indonesia.

Ahlusunah Was Syiah

Banyak orang menganggap bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah aliran Ahlus Sunnah mazhab Syafi’i. Tapi bila kita teliti mendalam, banyak adat istiadat umat Islam Indonesia bukan berasal dari Mazhab Ahlussunnah, tapi Syiah. KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid pernah menyatakan, Islam di Indonesia ini sebetulnya bermazhab Ahlus Sunah Was Syiah.

Benar apa kata Gus Dur. Sampai detik ini, banyak sekali “tradisi Syiah’ sudah menyatu dengan tradisi Islam di Indonesia, terutama di kalangan kaum Nahdhiyyin.

Contoh, tradisi mengusap kepala anak yatim piatu, memakai celak, membuat bubur Suro, manakiban, dan mengarak Tabut pada bulan Asyura di beberapa daerah di Indonesia, jelas itu semua berasal dari Syi’ah. Hadirnya mazhab Syi’ah dalam kehidupan Islam di Indonesia tak hanya terlihat dari tradisi-tradisi di atas, tapi juga dari sebagian akidahnya. Sebut saja kepercayaan datangnya Imam Mahdi di akhir zaman, salawatan, ziarah kubur, tahlilan, dan lain-lain – semuanya berasal dari tradisi Syiah.

Di Jawa, kepercayaan terhadap Imam Mahdi telah mengalamai transformasi kultural sehingga muncul sebutan Ratu Adil. Dalam perjalanan sejarah, Ratu Adil ini kerap menjadi simbol gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Pangeran Diponegoro, misalnya, memotivasi pasukannya dengan mengajak “perang sabil” melawan Belanda untuk menegakkan keadilan. Diponegoro sendiri dianggap pasukannya sebagai personifikasi Ratu Adil. Kyai Hasan Mu’min dari Sidoarjo pada tahun 1903 juga memproklamirkan diri sebagai Imam Mahdi dan berkhotbah akan perang jihad melawan Belanda. Bahkan Kartosuwiryo pun ketika memimpin DI TII di Malangbong, Garut menyatakan dirinya sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil.

Demikian besar kepercayaan orang Islam di Indonesia terhadap kedatangan Imam Mahdi atau Ratu Adil di akhir zaman, sehingga kedua nama itu sering dijadikan ikon kesucian dan perjuangan kelompok tertentu untuk menarik simpati masyarakat. Harap tahu, semua kepercayaan tersebut sumbernya dari Mazhab Syi’ah. Hanya saja kondisinya disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

Selain kepercayaan terhadap Imam Mahdi, pujian-pujian terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya juga mewarnai kegiatan keagamaan di Indonesia, khususnya di kalangan pengikut tarekat. Hampir semua gerakan tarekat atau tasawuf di Indonesia ujung wasilahnya tertuju kepada Ali. Ini artinya Ali adalah imam besar mereka. Itu semua menunjukkan dalamnya pengaruh Syiah.

Tradisi Syiah di Nusantara

Dari fakta-fakta di atas, Prof. Siti Baroroh Barid – satu-satunya ilmuwan Indonesia yang pernah meneliti sejarah kehadiran Syiah di Indonesia selama satu tahun di Belanda — menyatakan bahwa mazhab Syiah memang pernah sangat berpengaruh di Indonesia. Hal itu dipertegas oleh Ongan Parlindungan. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao menulis bahwa orang-orang Syiah dari aliran Qaramitah telah memerintah di Minangkabau selama 300 tahun. Orang-orang Syiah aliran Qaramitah, tulis Parlindungan, menguasai Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau, antara 1513 sampai 1804 Masehi.

Di Kota Ulakan, orang-orang Syiah juga mendirikan sebuah perguruan tinggi di bawah binaan Tuanku Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal yang datang dari Aceh. Di perguruan tinggi ini, sekitar 1.800 orang santri belajar tentang Syiah Qaramitah.

Perayaan Tabut yang masih berlangsung di Minangkabau tiap bulan Muharam sampai sekarang jelas berasal dari tradisi Syiah di Kesultanan Pagaruyung tersebut. Tak hanya di Minangkabau, perayaan Tabut juga ada di Bengkulu dan Aceh. Sekadar info: Tabut artinya peti mati. Perayaan Tabut adalah perayaan mengarak peti mati sebagai simbol kesyahidan Sayidina Husein, putra Sayidina Ali yang tewas di medan perang Karbala melawan pasukan Yazid. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam atau Suro. Di Aceh bulan Maharam tersebut sering disebut sebagai buleun Asan-Usen. Perayaan Tabut di kedua wilayah tersebut mengindikasikan kuatnya pengaruh Syi’ah di Bengkulu dan Aceh.

Lalu, dari manakah asal usul tradisi Syiah di Sumatera itu? Thomas W. Arnold menjawab, tradisi ini dari India dan Persia. Dalam catatan the greatest muslim traveler, Ibnu Batutah, Sultan Samudera Pasai di Aceh yang Syiah tak hanya dekat dengan Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau, tapi juga dekat dengan Istana Maimun, Kesultanan Deli di Sumatera Utara. Kekedakatan hubungan ini juga terjadi karena kedua kesultanan tersebut bermazhab Syiah. Dari penelusuran mendalam, jelas terlihat bahwa pada awal abad 16 sampai awal abad 19, seluruh Kesultanan di Pulau Sumatera menganut mazhab Syiah.

Lantas, bagaimana Syiah di Pulau Jawa? Oemar Amin Hoesin menyatakan bahwa di Persia ada satu suku bernama “Leren”. Uniknya, di Giri, Jawa Tengah, ada sebuah kampung bernama Leren. Patut diduga, suku Leren inilah yang mungkin dahulu pernah datang ke tanah Jawa. Menariknya, tulis Oemar, ternyata di Persia juga ada suku bernama Jawi. Dengan demikian, di Persia ada suku Leren dan suku Jawi, sedangkan di Indonesia ada suku Jawa dan kampung Leren. Itukah sebuah koinsidensi?

Itulah fakta sejarah dan antropologi. Bagaimana kelanjutan proses syiahisasi, arabisasi, dan jawanisasi itu? Ternyata interaksi dari ketiganya menghasilkan huruf Arab Pegon yang populer di Jawa.

Kita tahu, banyak kitab-kitab fiqih, tauhid, tasawuf, dan sastra di masa Kerajaan Islam Jawa ditulis dengan huruf Arab Pegon. Huruf Arab Pegon adalah simbol interaksi antara budaya Jawa, Islam Syiah, dan huruf Arab Persia.

Mengenai besarnya pengaruh Syiah di Indonesia ini, Prof. Dr. PA Hoesein Djajadiningrat menegaskan, kondisi tersebut terjadi karena Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Hal itu terlihat dari ejaan dalam tulisan Arab. Baris di atas dan di bawah disebut jabar (zabar) dan pes (pjes) – ini bahasa Iran. Sedang kalau bahasa Arab ejaannya adalah fathah dan kasroh. Begitu pula huruf sin yang tidak bergerigi menunjukkan sin dalam huruf Arab Persia. Sin dalam huruf Arab Arabiyah bergerigi.

Walhasil, pengaruh Syi’ah terhadap Islam di Indonesia memang sangat kuat. Itulah sebabnya, Hasan Al- Amin penyusun Ensiklopedi Syiah yang berjudul Dairatul Maarif al-Islamiyah as-Syi’iya yang terbit di Beirut, Libanon, tahun 1974, tanpa ragu menyatakan bahwa Indonesia termasuk kelompok negara-negara Syiah.

Tapi bagaimana kini? Dulu, memang mazhab Syiah sangat berpengaruh di Indonesia. Tapi dalam perjalanan sejarah, dominasi pengaruh Syiah itu menyusut karena datangnya mazhab Sunni di nusantara. Pengaruh mazhab Sunni ini makin besar seiring dengan makin banyaknya umat Islam yang belajar Islam di Mekah dan Madinah. Di sana, santri santri asal Indonesia ini “dicekoki” dengan ajaran Wahabi.

Setelah pulang ke Indonesia mereka menjadi da’i, ulama, pimpinan pesantren, dan tokoh masyarakat. Kondisi tersebut ditambah pula dengan banyaknya orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji, dan di Mekah, banyak yang terpengaruh aliran Wahabi.

Belakangan, gencarnya negara-negara Arab yang anti-Syiah, khususnya Saudi Arabia — yang berkampanye di Indonesia melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik — turut mengikis pengaruh Syi’ah di masyarakat Islam nusantara. Dengan biaya kampanye amat besar — 6 persen dari pendapatan minyak KSA — mereka ingin menghilangkan pengaruh Syiah di Indonesia.

Sejumlah penceramah dan agen-agen yang dibayar Saudi mengkampanyekan bahwa Syiah itu kafir. Saudi mendirikan radio satelit Rodja (juga TV) di mana-mana yang jangkauan pancarnya amat luas untuk kampanye anti-Syiah.

Berhasilkah kampanye-kampanye antisyiah ini?

Jawabannya, tidak akan berhasil. Karena tradisi Syiah telah menyatu dengan Islam di nusantara. Persis seperti dikatakan KH Abdurahman Wahid, Islam Indonesia sejatinya berbudaya Syiah. Aliran Wahabi (kini menyebut dirinya Salafi untuk kamuflase) yang kering, antimusik, radikal, antiseni lukis tidak kompatibel dengan karakter bangsa Indonesia yang halus, berjiwa seni, dan menghagai warisan leluhur.

Jadi jangan salahkan bila rakyat Indonesia dalam konflik Timur Tengah lebih pro-Iran ketimbang Saudi. Karena sejarah Islam Indonesia memang amat dekat dengan tradisi Syiah, ketimbang Wahabi. Syiah dengan sekian puluh alirannya, adalah mazhab yang sangat intelek, progresif, filosofis, dan fleksibel dengan budaya setempat. Itulah sebabnya kenapa Islam mudah tersebar di Nusantara. Beda sekali dengan Wahabi yang kaku, keras, antifilsafat, dan antibudaya lokal

Sumber:https://islami.co/tradisi-syiah-mewarnai-islam-indonesia-kenapa-diteror/
 
Sponsored Post

akudotcom

Legendary Member
Joined
Jun 17, 2007
Messages
18,128
Reaction score
2,780
Points
201
Bukti negara yg di pimpin oleh org kuat sembahyang pun lebih teruk


Iranian President Hassan Rouhani’s seven years of broken promises
2228331-1597322071-1005366.jpg
President of Iran Hassan Rouhani has been in office since August 3, 2013. (Reuters)
This month marks seven years since Hassan Rouhani assumed the Iranian presidency. There was a lot of hope, both in Iran and abroad, when he was elected in 2013. He twice ran to be president, offering promises such as “prudence and hope” and “freedom, security, peace and progress.”

He pledged to improve Iran’s economy, raise people’s living standards, bring normalcy to the country, enhance its image abroad, improve its ties with other countries, bring it out of international isolation, and advance civil liberties, human rights and the freedoms of speech, press and assembly.

In the West, he was dubbed as a reformist and a “diplomatic sheikh.” But anyone who had studied the Islamic Republic since 1979 and examined Rouhani’s political and religious background in the system, as well as his books, speeches and activism prior to his presidency, was cognizant of the fact he was anything but a reformist.

What the international community, particularly the West, failed to realize was that Rouhani, like many other Iranian politicians who are labeled as reformists or moderates, had always been a staunch supporter and advocate of the Velayat-e Faqih (Guardianship of the Islamic Jurist) system, which was expounded by the founding father of the Islamic Republic, Ayatollah Ruhollah Khomeini. In a speech in 2008, Rouhani said: “In an Islamic society, the ‘Islamic system’ (of Velayat-e Faqih) is more important than anything else, and the preservation of the system is a religious obligation.”

A look at Rouhani’s past positions in the Islamic Republic should also have made it crystal clear to the international community that Rouhani was the ultimate insider and one of Supreme Leader Ali Khamenei’s closest confidantes. Ever since the Supreme National Security Council (SNSC) was set up in 1989, Rouhani has been Khamenei’s representative on the committee. It is difficult to believe that Khamenei would have chosen Rouhani to be his representative on this important council without having assurances that Rouhani believed in his hard-line approach. Rouhani was even promoted to SNSC secretary for 16 years. He has also been a member of Iran’s Assembly of Experts since 1999 and a member of the Expediency Council since 1991.

Rouhani, like many authorities across Iran’s political spectrum, has always believed in the revolutionary ideals of the Islamic Republic, such as exporting the revolution abroad. He famously said, following the establishment of the Islamic Republic, that: “If the revolution remains within the country it will be destroyed… We must export our revolution to Iraq, to Kuwait, to Afghanistan and to all Muslim countries and to all the oppressed countries.”

Rouhani’s seven years in office have dashed the hopes of many governments, as well as the Iranian people, of there being any meaningful change in the regime. As an Iranian activist told me recently: “The country has gone from bad to worse. We thought (Mahmoud) Ahmadinejad or (Akbar Hashemi) Rafsanjani’s administrations were incompetent and evil, but we are now seeing that this is the worst administration the regime of the mullahs has had since 1979.”

When it comes to the economy, Iran now has the highest level of poverty it has had in the last two decades. An Iranian economist, Hossein Raghfar, told the state-run Iranian Students News Agency in April 2018 that 33 percent of Iran’s population was living in poverty. According to statistics from last year, that figure had risen to 40 percent — and it has likely increased further since. This is due to the fact that the unemployment rate, inflation rate and devaluation of the currency are all at record highs.

Meanwhile, Iran’s crackdown on free speech and its levels of oppression have peaked under Rouhani’s watch. The regime has brutally suppressed the unprecedented levels of social, economic and political unrest it has faced for more than two years. During the widespread protests of 2017 and 2019, many slogans became popular for the first time, such as “Death to Rouhani,” “Shame on you Khamenei, step down from power,” and “Death to the Islamic Republic.”

During Rouhani’s tenure, thousands of people have been executed, tortured or killed by the regime’s forces. In its 2019 global review of the death penalty, Amnesty International stated: “Iran retained its place as the world’s second-most prolific executioner after China.” The regime also increased its systematic persecution of religious and ethnic minorities, including the Kurds, Sunnis, Christians, and Arabs.

Rouhani has always believed in the revolutionary ideals of the Islamic Republic, such as exporting the revolution abroad.
Dr. Majid Rafizadeh
When UN sanctions were lifted as a result of the 2015 nuclear deal and Iran was reintegrated into the global financial system, Rouhani’s administration did not keep to its promise of redistributing wealth among the ordinary people. Instead, the regime funneled the additional revenues to the Islamic Revolutionary Guard Corps and its proxies, such as Hezbollah, to expand Iran’s military and political influence in the region, including in Iraq, Lebanon, Syria, and Yemen.

In short, Rouhani’s presidency has dashed hopes of meaningful change in the Islamic Republic. He has achieved nothing positive, instead bringing destruction, suppression, instability, poverty, military adventurism and broken promises.

  • Dr. Majid Rafizadeh is a Harvard-educated Iranian-American political scientist. Twitter: @Dr_Rafizadeh
Disclaimer: Views expressed by writers in this section are their own and do not necessarily reflect Arab News' point-of-view

 

akudotcom

Legendary Member
Joined
Jun 17, 2007
Messages
18,128
Reaction score
2,780
Points
201
Pergaduhan antara 2 aliran dlm 1 agama di Pakistan


Ketegangan Syiah dan Sunni Meningkat, Picu Kekhawatiran Babak Baru Kekerasan Sektarian di Pakistan
Jumat, 11 September 2020 | 23:02 WIB
KARACHI, KOMPAS.com - Ribuan pengunjuk rasa anti-Syiah memicu kekhawatiran masyarakat meningkatnya ketegangan kelompok agama antara Syiah dan Sunni, yang dapat memicu babak baru kekerasan sektarian di Karachi, Pakistan.

Melansir AFP pada Jumat (11/9/2020), kekhawatiran itu disebabkan karena ribuan pengunjuk rasa anti-Syiah di Karachi Pakistan pada Jumat (11/9/2020), termasuk demonstran yang memiliki hubungan dengan ekstrimis Sunni.

Unjuk rasa anti-Syiah dilakukan menyusul serangkaian tuduhan penistaan terhadap para pemimpin utama Syiah di Pakistan.

Baca juga: Dianggap Tidak Bermoral, Pakistan Blokir 5 Aplikasi Kencan Online

Pada Agustus, siaran televisi tentang prosesi Asyura menunjukkan ulama dan peserta diduga membuat pernyataan yang meremehkan tokoh-tokoh Islam bersejarah.

Asyura memperingati pembunuhan cucu Nabi Muhammad, Hussein pada Pertempuran Karbala pada 680 M, yang menjadi momen menentukan perpecahan agama dan kelahiran Islam Syiah.

Demonstrasi pada Jumat menunjukkan ribuan pengunjuk rasa berorasi di dekat makam pendiri negara, yaitu Muhammad Ali Jinnah, di mana peserta meneriakkan "kafir" dan "Tuhan adalah Yang Maha Besar".

Baca juga: Pakistan Kecam Rencana Majalah Charlie Hebdo Cetak Ulang Karikatur Nabi Muhammad

"Kami tidak akan mentolerir pencemaran nama baik lagi," kata Qari Usman dari partai politik Islam Jamiat Ulema-e-Islam dalam pidatonya.

Kantong-kantong demonstran memegang spanduk kelompok ekstremis anti-Syiah Sipah-e-Sahaba, yang telah dikaitkan dengan pembunuhan ratusan Syiah selama bertahun-tahun.

Penodaan agama adalah masalah yang sangat sensitif di Pakistan yang konservatif, di mana undang-undang dapat menjatuhkan hukuman mati bagi siapa pun yang dianggap menghina Islam atau tokoh Islam.


Baca juga: Menteri Pakistan Ini Ancam Bakal Serang India Pakai Senjata Nuklir

Bahkan, tuduhan yang tidak terbukti telah menyebabkan pembunuhan massal dan pembunuhan main hakim sendiri.

Kekerasan sektarian telah meletus secara tiba-tiba selama beberapa dekade di Pakistan, dengan kelompok militan anti-Syiah yang tumbuh di dalam negeri, membom tempat-tempat suci dan menargetkan prosesi Asyura.

Ribuan orang terbunuh dalam dekade sebelumnya yang memicu tindakan keras oleh pasukan keamanan pada 2015, yang mengakibatkan penurunan dramatis dalam kekerasan sektarian.

Baca juga: Kencan Lewat Tinder, Wanita Pakistan Menghalau Tabu

Tindakan keras itu memuncak pada Juli 2015 ketika Malik Ishaq, kepala kelompok militan terlarang Lashkar-e-Jhangvi (LeJ) tewas dalam baku tembak dengan polisi bersama dengan 13 sesama militan.

Baku tembak itu memusnahkan sebagian besar pemimpin puncak LeJ, kekuatan pendorong dalam kekerasan yang menargetkan Syiah, yang merupakan sekitar 20 persen dari 220 juta penduduk Pakistan.

Karachi, kota terbesar di Pakistan yang juga merupakan pusat bisnis dan industri utama, dulunya penuh dengan militansi politik, sektarian, dan etnis dengan ribuan orang terbunuh.

Namun, operasi selama bertahun-tahun oleh pasukan keamanan yang dimulai pada 2013 telah membawa kerusuhan yang cukup mereda, tetapi serangan yang tersebar masih terjadi.

Baca juga: Dianiaya 35 Tahun di Kebun Binatang Pakistan, Gajah Kaavan Akhirnya Punya Rumah Baru
 

akudotcom

Legendary Member
Joined
Jun 17, 2007
Messages
18,128
Reaction score
2,780
Points
201
Dr MAZA dan Syiah
September 7, 2020
IMG-20200907-WA0032-696x391.jpg

AGAK heboh juga di medsos baru-baru ini, apabila Mufti Perlis, Datuk Dr Asri Zainal Abidin (MAZA) menyiarkan gambar-gambar beliau bersama seorang lagi pendakwah yang sealiran pemikiran dengan beliau, Dr Kamilin Jamilin, bersama dengan Duta Negara Iran di ‘page’ rasmi beliau.

Umum mengetahui bahawa ideologi antara Syiah dengan pemikiran Dr Maza diibaratkan sebagai dua kutub pada satu batang magnet. Tidak pernah bertemu. Ia bertentangan dan logik akalnya tidak akan bertemu selama-lamanya. Baca dan dengarlah kritikan dan hentaman beliau terhadap golongan Syiah. Tetapi, menariknya, beliau bukan sahaja hadir ke kedutaan Iran sebagai tetamu, dijamu makan, berbincang malah bergambar dengan latar belakang gambar pimpinan Syiah.

Gegak gempitalah penyokong beliau. Tetapi seperti biasa, apabila terkena kepada kumpulan sendiri, tabayyun, nasihat didahulukan. Dan apabila terjadi kepada kumpulan lain, ‘tibai-yun’ adalah seafdhal-afdhal perbuatan, tanpa memeriksa dahulu. Kepada lawan, jika ahli bersangka baik dengan pimpinan sendiri, ia dianggap taqlid buta atau wala’ membabi buta. Tapi bila bersangka baik dengan pimpinan mereka, itulah sunnah.

Tetapi tujuan tulisan ini, bukanlah mahu menarik pemikiran anda semua ke arah perbalahan mazhab yang panjang dan popular itu. Cubitan nakal ini hanya bagi menyedarkan diri kepada sesiapa yang masih tidak sedar bahawa penilaian masing-masing adalah digerakkan oleh nafsu dan kebencian, sentimen, kepuakan dan merasa hanya dirinya sahaja yang betul, dan bukan kerana ilmu yang benar. Amat jarang ia terjadi kerana ilmu, apatah lagi dari pengikut yang jahil.

Tindakan Dr Maza ini sebenarnya amatlah terpuji. Ia menganjak paradigma kita untuk melihat isu ini dari sudut yang lain. Mazhab Syiah bukan semuanya ditolak oleh majoriti ulamak dunia, sebagaimana yang telah dideklarasikan di Amman, Jordan pada tahun 2005 dahulu, Zaidiyyah dan Imamiah diterima. Termasuklah juga Khawarij I’badi yang menurut Datuk Dr Zulkifli Mohamad ketika menjawat jawatan Mufti Wilayah, diharuskan solat di belakang imam Ibadiyyah.

Saya telah menulis lama dahulu berkenaan kisah jemputan Presiden Iran ketika itu Ali Rafsanjani oleh Kerajaan Arab Saudi ke negara mereka. Kisah popular berkenaan ketika Rafsanjani dibawa masuk ke makam Rasulullah, seusai berdoa dan berselawat, beliau mengambil peluang mencerca kedua Sahabat yang diredhai Allah Abu Bakar dan Umar.

Bangun dalam khutbah selepas itu Syeikh Ali al-Huzaifi, membalas semula kutukan terhadap Presiden Iran. Soalnya mengapa Saudi menjemput Presiden Iran menjadi tetamu negara mereka jika benar mereka kafir? Saya kemudiannya ditegur oleh beberapa orang yang mengakui sebagai anak murid Syeikh Ali al-Huzaifi dengan mendakwa bukan beliau dikenakan tahanan rumah, tetapi disembunyikan kerana ada ugutan bunuh. Marah benar mereka.

Saya dengan senang hati menarik balik perkataan dikenakan tahanan rumah itu dan menggantikannya dengan disembunyikan. Tiada apa yang berubah kerana mereka tiada bantahan pun kepada kenyataan bahawa Saudi menjemput Presiden Iran yang Syiah dan dikatakan kafir itu. Malah tiada didengar juga tindakan Saudi terhadap Rafsanjani yang jelas menghina Sahabat yang dikasihi Rasulullah itu.

Sama seperti Perjanjian Hudaibiyyah. Tangan-tangan yang menandatangani perjanjian itu dari Musyrikin Makkah adalah tangan-tangan yang membunuh Sahabat dan kaum kerabat umat Islam. Tetapi mengapa Rasulullah tetap meneruskan perjanjian, malah dengan diberati perjanjian itu kepada Musyrikin. Bukan itu sahaja, Suhail bin Amr juga cuba memperlekehkan Rasulullah ketika itu.

Adakah kita mahu mengatakan bahawa Syiah lebih jahat daripada Musyrikin Makkah? Bermakna itu adalah satu penghinaan kepada Rasulullah kerana para Nabi dan Rasul lah yang akan menghadapi musuh yang paling jahat, bukan kita. Adakah Syiah di zaman Rasulullah? Dan juga persoalan lain, kenapa Umar bin Abdul Aziz berjumpa dengan golongan Syiah bagi perdamaian dan Syiah menerimanya?

Jelas apa yang dilakukan oleh Dr MAZA, telah lama dilaksanakan tanpa jemu oleh Presiden PAS. Taqrib Mazhab yang suatu ketika dahulu dikutuk dan dicerca oleh golongan pembenci, kini terpaksa ditelan kembali ludah itu oleh mereka. Ada ruang yang sangat nyata dalam menautkan kembali persefahaman. Jika tidak semua, maka sebahagiannya, insya-Allah.

Tindakan Dr MAZA ini hanyalah seperti membenarkan dengan sejelas-jelasnya bahawa tiada yang mustahil untuk dilakukan demi keamanan Dunia Islam oleh Presiden PAS. Sudah pastinyalah tindakan ini mesti berjalan pada aras tertinggi dan bukannya pada akar umbi yang sangat kabur sebagaimana kejayaan beliau menyatukan PAS dan Umno di Malaysia.

Presiden PAS adalah tokoh terlayak untuk ini. Sedarkah anda bahawa, walaupun beliau telah tidak lagi memegang sebarang jawatan dalam Kesatuan Ulamak Islam Sedunia (KUIS), tetapi selepas Ketua KUIS, Ahmed Raysuni dan Setiausaha Agungnya Ali Muhyiddin al-Kadaghari memberikan ucapan, beliau adalah orang ketiga memberikan ucapan dalam Muktamar Khas KUIS berkenaan hubungan UAE dengan Israel baru-baru ini. Apa lagi bukti yang mahu diberikan untuk mengatakan bahawa beliau seorang yang dihormati Dunia Islam? Tidak luak pun beliau dihina di sini.

Dr MAZA juga secara tidak langsung mengakui tindakan Presiden PAS adalah benar. Dr MAZA pastinya tidak bersuka-suka ke sana hanya kerana mahu menjamah hidangan Syiah. Tetapi hadirnya beliau kerana mahu merapatkan hubungan. Sebab itu kata beliau lagi, ada perbincangan beliau bersetuju dan ada hal yang beliau tidak bersetuju. Setuju untuk tidak bersetuju. Mungkinkah Dr MAZA telah mematahkan magnet itu, lalu hujung dan hujungnya kita boleh bertangkup kerana berlainan kutub?

Bagi kita yang meyakini tiada mustahil bagi Allah, teruskan berdoa agar kesatuan umat dapat ditegakkan. Hanya dengan cara bersatu di bawah panji Islam, kita akan dapat mengalahkan musuh Allah yang nyata diberitahu Allah dan Rasul dalam al-Quran iaitu Yahudi dan Nasrani. Ada tak kita dengar suara pengkritik apabila UAE sahabat baik Saudi mengadakan hubungan diplomatik dengan musuh Allah? Mungkin taqrib agama Islam dan Yahudi lebih aula bagi sesetengah orang? Entahlah.

MOHD NASIR ABDULLAH
7 September 2020 – HARAKAHDAILY7/9/2020
 

KingBlack

Fun Poster
Joined
Jul 28, 2018
Messages
125
Reaction score
11
Points
15
Benda simple.. kalau dlm agama kristian yang mengubah ajaran Nabi Isa dikatakan murtad dan menyeleweng.. dalam Islam yang mengubah ajaran dan wasiat Nabi saw dikatakan paling Sunnah dan autoclaim Ahlul sunnah..

Sunni dan Wahabi berkongsi sejarah dan Imam yang sama

sedangkan Syiah tetap dengan 12 Imam Ahlul Bayts sepeninggalan Nabi saw
 

Emy_Ezra

Super Active Member
Joined
Sep 2, 2012
Messages
6,124
Reaction score
424
Points
96
Benda simple.. kalau dlm agama kristian yang mengubah ajaran Nabi Isa dikatakan murtad dan menyeleweng.. dalam Islam yang mengubah ajaran dan wasiat Nabi saw dikatakan paling Sunnah dan autoclaim Ahlul sunnah..

Sunni dan Wahabi berkongsi sejarah dan Imam yang sama

sedangkan Syiah tetap dengan 12 Imam Ahlul Bayts sepeninggalan Nabi saw
Bila dah berpecah 73 jalan, memang payah nak bezakan.
Yang jelas, wahabi dan syiah memang dah terbabas.
 

KingBlack

Fun Poster
Joined
Jul 28, 2018
Messages
125
Reaction score
11
Points
15
Bila dah berpecah 73 jalan, memang payah nak bezakan.
Yang jelas, wahabi dan syiah memang dah terbabas.
Yang serupa dari segi sejarah ialah Sunni dan Wahabi.... Imam Sunni berasal dari Syiah Imamiyah.. 4 mazhab Sunni yang tak pernah mengclaim sbg Imam Sunni adalah Syiah Imam Jaafar Imam Syiah ke 6...Ahlul Sunnah Wal Jamaah diasaskan selepas 300H oleh Abu Hassan Al Asyari..

Sb tu kalau Wahabi duk kacau akidah Sunni, masing-masing duk salahkan Syiah.. lepas tu berzanji ke, maulid ke apa ke sume depa kacau padahal Sunni mmng berasal dan bersanad dari Mazhab Ahlul Bayts Syiah Imamiah.

toksah duk claim jalan paling benar lah.. mengubah-mengubah ajaran nabi takkan jadi paling benar..
 

KingBlack

Fun Poster
Joined
Jul 28, 2018
Messages
125
Reaction score
11
Points
15
Yang serupa dari segi sejarah ialah Sunni dan Wahabi.... Imam Sunni berasal dari Syiah Imamiyah.. 4 mazhab Sunni yang tak pernah mengclaim sbg Imam Sunni adalah Syiah Imam Jaafar Imam Syiah ke 6...Ahlul Sunnah Wal Jamaah diasaskan selepas 300H oleh Abu Hassan Al Asyari..

Sb tu kalau Wahabi duk kacau akidah Sunni, masing-masing duk salahkan Syiah.. lepas tu berzanji ke, maulid ke apa ke sume depa kacau padahal Sunni mmng berasal dan bersanad dari Mazhab Ahlul Bayts Syiah Imamiah.

toksah duk claim jalan paling benar lah.. mengubah-mengubah ajaran nabi takkan jadi paling benar..

Sesuai dengan hadis Nabi saw bahawa Baginda Nabi saw adalah kota Ilmu dan Imam Ali as adalah pintunya.. jadi kalau Sunni atau Wahabi claim mereka bersanad dari salafus soleh itu bermakna mereka “tebuk atap”. Syiah Ali berjalan pada Sunnah dan Ahlul Sunnah sebenar ialah yang berpegang pada 12 Imam Ahlul Bayts.
E316109A-34D8-44FB-B994-40C368CC31D0.jpeg
 

KingBlack

Fun Poster
Joined
Jul 28, 2018
Messages
125
Reaction score
11
Points
15
Kita tgk pula panutan Sunni Takfiri anti Syiah dan Wahabi berakar dari mana...Majoriti kaum syiah di Iran menganut Mazhab Feqh Imam Jaafar As Sadiq - guru sanad kepada Imam 4 Mazhab.. lepastu kat Malaysia lahir banyak kelompok takfiri dan Sunni yang menyeleweng..
Kaum Sunni yang terseleweng ni nanti akan dipimpin oleh Shuaib bin Soleh dari Timur . Shuaib beerti menunjukkan jalan kebenaran.. dan ini jelas pengikutnya adalah kelompok yang terseleweng..selagi tak dibetulkan mereka takkan bersatu dengan kaum yang difitnah kafir dan sesat iaiatu Panji Sayyid Al Khurasani Imam Ali Khamenei pasukan yang tak pernah kalah...
0007421A-71BE-4F7F-8203-6AB59430742B.jpeg
 
Last edited:

akudotcom

Legendary Member
Joined
Jun 17, 2007
Messages
18,128
Reaction score
2,780
Points
201
Mazhab bermaksud school of thought dlm bidang fikh (bidang amali)

kalau mat saleh ckp, sectarian

dlm pelbagai agama, ada byk skolah2 atau mazhab mempelajari amalan seharian begitu

kristian pun ada byk mazhab eg protestant catholic angelican unitarian etc

islam juga tidak ketinggalan, lebih beratus mazhab kot..tp yg utama ialah 4 hanafi hambali maliki syafie
Syiah tu pun salah satu mazhab jg sebenarnya sbb imam yg ber4 tu pun dulu sama2 anak murid

knp kita berbeza skolah?
Sbb punya guru2 yg berbeza
Setiap guru2 berpegang kpd nas dan dalil2 mereka

Contoh sembahyang
Kita bole pakai sejadah
Bg syiah tak sah, sbb dahi tu kene sentuh tanah Sbb tu mereka letak tanah kat sejadah heheh
Adalah hadis2 yg mereka percayakan yg nabi dahi sentuh tanah masa sujud
Mereka pun ada hadis sahih
Kita pun ada hadis sahih jg

sbb tu hajji sebenarnya mengajar kita mengenal cara2 persekolahan org lain
Budaya amali mereka
Belajar tu bukan nak amalkan
Tp supaya kita paham setiap individu pengajaran berbeza Menhormati each other
Dan berlapang dada dgn khilaf masing2

kalau idak, haji tu hahya jd pengalaman melancong tanpa mengambil pelajaran

kita skolah kebangsaan
Dia sekolah vernakular
Adakah skolah dia salah?
Skolah kita aja yg betul?

biasa nya skolah yg tak betul, akan melahirkan anak murid yg terrorist
 
Sponsored Post

CG Sponsors




Top
Log in Register