tokputih
CG Top Poster Club

- Messages
- 27,694
- Joined
- Apr 24, 2008
- Messages
- 27,694
- Reaction score
- 1,026
- Points
- 206
Kalau dah ada anggap aje hanya tazkirah sekadar mengingat atau mengulang antara satu sama lain...
JADIKAN IA SEBAGAI PENGAJARAN UNTUK KITA SEMUA...............
Sebelum g Mekah, mari kita ambik iktibar dulu yek.. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan
(bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang
kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara material,mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala kelengkapan sudah disiapkan.
Ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Keadaan keduanya sihat
walafiat, tak kurang satu apapun. Tiba
harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. 'Labaik Allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah'.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, 'Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah Ka'bah).' Hasan menunjuk kepada bangunan
empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi dia terdiam.
Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak
bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa
melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya,
tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesihatan matanya. Beberapa minit yang lalu
dia masih melihat segalanya dengan jelas,
tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh
kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di
hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya.
Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap rahmatNYA.Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga
rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan
anugerah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang soleh itu berniat
akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan didekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak dapat melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah.. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.Hasan tak habis fikir, dia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah.
Padahal, setiap kali berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Dia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperlakukan ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal kerana kesohlehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi
(Uni Emirat). Tanpa kesulitan bererti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah
kepada ulama yang soleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan saksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan perlu menelefonnya. Anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, dia meminta ibunya untuk menghubungi
ulama di Abu Dhabi tersebut.
Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun menelefon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah
introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak
mendapat rahmat Allah.
Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang
telah dilakukannya. 'Anda harus
berterus-terang kepada saya, karana masalah anda bukan masalah senang,'
kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam
sejenak. Kemudian dia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat
sebarang khabar dari Sarah...
Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah
menelefon. 'Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai jururawat di rumah sakit,' cerita Sarah akhirnya. 'Oh, bagus.....
Pekerjaan jururawat adalah pekerjaan mulia,'potong ulama itu. 'Tapi saya mencari wang sebanyak-banyaknya dengan
berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,' ungkapnya terus terang. Ulama itu terkejut.. Ia tidak
menyangka wanita itu akan berkata demikian.
'Disana....' sambung Sarah, 'Saya sering kali menukar bayi, karana tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbuhan wang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.'
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. 'Astagfirullah. .....' betapa tega wanita itumenyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluargayang telah dirosaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahawa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.
Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, iaitu orang-orang
yang tidak boleh dinikahi.'Cuma itu yang saya lakukan,' ucap Sarah. 'Cuma
itu ?' tanya ulama terperanjat. 'Tahukah
anda bahawa perbuatan anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah anda hancurkan!'. ucap ulama dengan nada tinggi.'Lalu apa lagi yang Anda kerjakan? 'tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
'Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.' 'Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,' kata ulama. 'Ya, tapi saya memandikan orang mati karana ada kerja sama dengan tukang sihir.' 'Maksudnya?' tanya ulama tidak mengerti. 'Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.'
'Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti
jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda
itu seperti terpental, tidak hendak masuk,
walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam.
Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya cuba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak,
saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya
lakukan.' Mendengar pertuturan Sarah yang
datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
'Cuma itu yang kamu lakukan ?'. 'Masya Allah.....!!! Saya tidak dapat bantu anda. Saya angkat tangan'.Ulama itu amat
sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam
hidupnya ada seorang manusia, apalagi dia
adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, 'Anda harus memohon ampun kepada Allah, kerana hanya Dialah yang dapat mengampuni dosa Anda.'
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar khabar selanjutnya dari
Sarah. Akhirnya ia mendapat tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia
berharap Sarah telah bertaubat atas segala
yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya.Kerana
tak juga memperoleh khabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir.
Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan
khabar Sarah,ternyata khabar duka yang diterima ulama itu... 'Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelefon ustad,' ujar
Hasan. Ulama itu terkejut mendengar khabar
tersebut. 'Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?'. tanya ulama itu.
sambung...
JADIKAN IA SEBAGAI PENGAJARAN UNTUK KITA SEMUA...............
Sebelum g Mekah, mari kita ambik iktibar dulu yek.. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan
(bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang
kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara material,mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala kelengkapan sudah disiapkan.
Ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Keadaan keduanya sihat
walafiat, tak kurang satu apapun. Tiba
harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. 'Labaik Allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah'.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, 'Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah Ka'bah).' Hasan menunjuk kepada bangunan
empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi dia terdiam.
Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak
bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa
melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya,
tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesihatan matanya. Beberapa minit yang lalu
dia masih melihat segalanya dengan jelas,
tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh
kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di
hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya.
Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap rahmatNYA.Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga
rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan
anugerah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang soleh itu berniat
akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan didekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak dapat melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah.. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.Hasan tak habis fikir, dia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah.
Padahal, setiap kali berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Dia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperlakukan ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal kerana kesohlehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi
(Uni Emirat). Tanpa kesulitan bererti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah
kepada ulama yang soleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan saksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan perlu menelefonnya. Anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, dia meminta ibunya untuk menghubungi
ulama di Abu Dhabi tersebut.
Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun menelefon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah
introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak
mendapat rahmat Allah.
Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang
telah dilakukannya. 'Anda harus
berterus-terang kepada saya, karana masalah anda bukan masalah senang,'
kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam
sejenak. Kemudian dia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat
sebarang khabar dari Sarah...
Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah
menelefon. 'Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai jururawat di rumah sakit,' cerita Sarah akhirnya. 'Oh, bagus.....
Pekerjaan jururawat adalah pekerjaan mulia,'potong ulama itu. 'Tapi saya mencari wang sebanyak-banyaknya dengan
berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,' ungkapnya terus terang. Ulama itu terkejut.. Ia tidak
menyangka wanita itu akan berkata demikian.
'Disana....' sambung Sarah, 'Saya sering kali menukar bayi, karana tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbuhan wang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.'
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. 'Astagfirullah. .....' betapa tega wanita itumenyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluargayang telah dirosaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahawa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.
Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, iaitu orang-orang
yang tidak boleh dinikahi.'Cuma itu yang saya lakukan,' ucap Sarah. 'Cuma
itu ?' tanya ulama terperanjat. 'Tahukah
anda bahawa perbuatan anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah anda hancurkan!'. ucap ulama dengan nada tinggi.'Lalu apa lagi yang Anda kerjakan? 'tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
'Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.' 'Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,' kata ulama. 'Ya, tapi saya memandikan orang mati karana ada kerja sama dengan tukang sihir.' 'Maksudnya?' tanya ulama tidak mengerti. 'Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.'
'Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti
jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda
itu seperti terpental, tidak hendak masuk,
walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam.
Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya cuba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak,
saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya
lakukan.' Mendengar pertuturan Sarah yang
datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
'Cuma itu yang kamu lakukan ?'. 'Masya Allah.....!!! Saya tidak dapat bantu anda. Saya angkat tangan'.Ulama itu amat
sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam
hidupnya ada seorang manusia, apalagi dia
adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, 'Anda harus memohon ampun kepada Allah, kerana hanya Dialah yang dapat mengampuni dosa Anda.'
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar khabar selanjutnya dari
Sarah. Akhirnya ia mendapat tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia
berharap Sarah telah bertaubat atas segala
yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya.Kerana
tak juga memperoleh khabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir.
Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan
khabar Sarah,ternyata khabar duka yang diterima ulama itu... 'Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelefon ustad,' ujar
Hasan. Ulama itu terkejut mendengar khabar
tersebut. 'Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?'. tanya ulama itu.
sambung...